Pahlawan Terbesar Itu Bernama Ayah Bunda

SHOUTH WALES, akhir tahun 1863.
Salju memutih. Titik hitam di atas hamparan salju. Semakin membesar. Dalam balutan kain tebal, tampak seorang ibu tertatih. Ia menggendong bayinya di antara deru dan embusan angin yang sangat menusuk.

Seketika, gemuruh mengurung sang ibu dan bayi yang digendongnya. Entah dari arah mana gunungan salju dalam badai itu datang. Saking dahsyatnya, tak seorang pun yang sejak awal melihat sang ibu memberanikan diri keluar untuk menolongnya.

Badai reda. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut berdiri mematung. Seketika tersadar. Dalam pada itu, mereka berhamburan menuju tempat kejadian. Terlambat ….

Sesosok mayat terbujur kaku. Mantel tebalnya tak lagi membungkus dirinya. Ada sosok kecil dengan kedipan mata jernih yang kini terbungkus kain tebal tersebut. Sang ibu telah mengorbankan jiwa dan raganya demi menyelamatkan generasi penerusnya.

Inggris, 1916.
Sebuah pemerintahan baru. Seorang negarawan. Seorang pemimpin. Seorang David Lloyd George (1863-1945). Ia telah menjadi seorang yang besar dari sebuah pengorbanan seorang ibu yang berjiwa besar.

***

Ayah … Bunda …, mengeja kehidupan adalah membaca satu persatu epik kehidupan yang selalu dihiasi kisah-kisah heroik para pahlawan penuh pengorbanan. Mereka adalah orang-orang yang bekerja tanpa lelah, tanpa resah, tanpa keluh kesah, bahkan rela bersimbah darah. Mereka adalah orang-orang yang merelakan seluruh energinya, mencurahkan setiap ilmunya, menyempurnakan setiap amalnya, dan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya demi terwujudnya sesuatu yang sangat besar.

Saat Islam turun, Rasulullah saw. sangat meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Islamlah yang selama ini ia cari dan sesuai dengan ajaran Ibrahim. Islamlah agama yang benar. Islamlah yang akan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islamlah yang akan mampu mewujudkan kesejahteraan di seluruh permukaan bumi. Oleh karena itu, seluruh hidupnya ia korbankan untuk Islam.

Saat istri tercintanya, Bunda Khadijah, memintanya kembali tidur sesaat setelah Rasulullah saw. menerima wahyu (Al Muddatstsir, 74: 1-7), Rasulullah saw. menjawab, “Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah”. Saat Islam mendapat embargo dari kaum Quraisy Mekah, Rasulullah saw. dan Bunda Khadijah rela menghabiskan seluruh hartanya demi menyelamatkan Islam dan kaum Muslimin. Saat Islam mendapat serangan ke sekian kali dari pasukan kafir Quraisy di Uhud, Rasulullah saw. harus merelakan gerahamnya berlumuran darah dan paman tercintanya, Hamzah, terbunuh.

Ayah… Bunda… selain Islam, apakah yang Ayah dan Bunda yakini merupakan hal yang besar? Apakah Ayah dan Bunda yakin bahwa anak-anak kita diciptakan untuk menjadi orang besar? Sekiranya tidak, apakah Allah Swt. melahirkan mereka ke dunia ini hanya untuk menjadi orang kecil? Rasanya kita setuju untuk mengatakan “tidak”. Rasanya kita setuju bahwa Allah Swt. menciptakan anak-anak kita untuk menjadi orang besar. Oleh karena itu, pengorbanan seperti apa yang sudah kita lakukan untuk calon orang-orang besar tersebut? Apakah kita sudah rela meninggalkan kebiasaan kita membentak dan menghardik si calon orang besar? Apakah kita sudah rela meninggalkan kebiasaan kita mengkritik si calon orang besar? Apakah kita sudah rela meninggalkan kebiasaan kita menjewer dan memukul si calon orang besar? Apakah kita sudah rela meninggalkan kebiasaan kita memvonis salah si calon orang besar? Apakah kita sudah rela meninggalkan aktivitas kita hanya demi menemani hidup si calon orang besar?

Ayah… Bunda… pengorbanan besar bukanlah pada keluarnya harta, tenaga, jiwa, dan raga Ayah dan Bunda. Tidak ada yang meragukan bahwa Ayah dan Bunda akan mengorbankan semua itu demi si calon orang besar. Pengorbanan besar adalah pengorbanan mengendalikan nafsu amarah kita saat si calon orang besar tidak sesuai dengan sudut pandang kita. Pengorbanan besar bukan hanya untuk terjaganya kondisi fisik anak-anak kita, melainkan juga untuk kondisi kejiwaan anak-anak kita. Yakinlah, pengorbanan besar seperti itu akan menjadikan Ayah dan Bunda sebagai pahlawan terbesar anak-anak kita. Pahlawan yang sama sekali tidak akan terkalahkan oleh Superman, Batman, Spiderman, Naruto, dan lain-lain. Adakah hidup yang lebih bahagia selain dari dinilai dan diakui sebagai pahlawan terbesar oleh anak-anak kita? Wallahua’lam***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s